Tahun Berganti, Umur Bertambah, Amal Stagnan

Tak lama berselang bakal masuk tahun 2026. Tidak terasa waktu cepat berlalu, rasanya masih 2025 tapi kenyataannya sebentar lagi, cuma beberapa hari saja sudah datang 2026. Konon tidak banyak yang berubah dari tahun ke tahun kecuali tarikan nafas. Yang bertambah umur doang. Tiap berganti tahun, usia otomatis naik satu tahun.

 

Rambut makin beruban dan wajah sudah semakin layu tidak kencang lagi. Fisik telah mulai menua sesuai dengan bilangan usia. Tenaga tidak pula kuat dan kokoh seperti dulu. Sekarang jalan mulai terlihat melambat, badan kian tampak melemah. Cara pandang tidak selalu optimis sebagaimana  tahun-tahun sebelumnya. Rasa kepercayaan diri sudah tak mengebu-ngebu lagi. Tiap hari sudah mulai memikirkan nilai-nilai religius, walaupun tingkat keimanan beribadah belum bertambah signifikan.

 

Agaknya, secara spiritualitas, tidak ada yang menonjol dari tahun ke tahun. Padahal sekarang tahun sudah berganti terus menerus, akan tetapi jiwa rohaniah masih stagnan, malah cenderung menurun.

 

Semestinya peralihan tahun diikuti dengan peningkatan kualitas diri, baik secara materi, kesehatan, maupun amal ibadah. Tapi kenyataannya tidak ada yang meningkat, malah dirasa banyak penurunan. Yang bertambah hanya bilangan angka jiwa, tambah satu tahun.

 

Padahal Allah SWT sudah memberi peringatan, dengan cara memanggil beberapa orang sahabat ke hadapan-NYA. Intinya, tidak lama lagi kita juga akan menyusul. Semakin meningkat usia maka kian dekat dengan panggilan Allah.

 

Buktinya, dalam tempo dua hari saja, Allah sudah memanggil dua orang kenalan saya. Kepergiannya terkesan mendadak. Seolah-olah pesan itu ditujukan ke saya. Tidak lama lagi juga bakal menghadap Allah SWT, siap atau tak siap.

 

Kalau Allah sudah memanggil, maka tidak ada satu pun yang boleh dilakukan. Kita cuma tinggal mempertanggungjawabkan saja lagi. Apa yang sudah dikerjakan dan apa yang kita pikirkan dan perbuat, semua dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

 

Saat itu kita tidak bisa kembali memohon ampun. Kalau banyak yang positif, alamat keuntungan yang kita peroleh, tapi bila timbangan itu ternyata berlebih yang negatif atau istilah lain dosa, maka azab Allah akan menanti kita.

 

Pergantian tahun, sesungguhnya mesti jadi ladang introspeksi ummat. Datangi tahun baru dan tinggalkan tahun lama. Kehidupan kita harusnya juga seperti itu. Campakkan keburukan di belakang dan masuki tahun baru dengan jiwa yang lebih bagus dari pada tahun-tahun sebelumnya.

 

Tapi itu hanya tinggal keinginan semata. Faktanya, tiap perobahan tahun selalu berlalu dengan senyap seperti sepinya peningkatan kualitas diri dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Seyogyanya pergantian tahun harus muncul perubahan-perubahan yang menuju ke arah positif. Sementara itu kita menjalani pertukaran tahun dengan situasi dan kondisi yang relatif sama, malah menurun sesuai dengan pengurangan “masa pakai” raga dan jasmani.

 

Itulah situasi dan kondisi yang dianggap Rasulullah sebagai orang yang merugi. Yang beruntung itu personal yang lebih bagus saat ini ketimbang masa lalu. Itu harapan hakiki seorang manusia umat Rasulullah. Jangan sampai kita jadi individu yang mudarat.

 

Sekarang, kondisi yang menyusahkan itulah yang terjadi. Pertukaran tahun tetap berjalan, the show must go on, tapi kualitas hidup dan amal ibadah diri tetap jalan ditempat.

 

Secara teoritis kita harus jadi orang beruntung. Tapi faktanya, saat pergantian tahun 2025 ke 2026 kita justru menjadi orang yang merugi.*

 

 

Ridarman Bay

Ketua Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik Dewan Pimpinan Muhammadiyah (LHKP PWM) Provinsi Kepri

92 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *