Dilema Belanja Online: Efisiensi atau Konsumtif

Beberapa waktu, rumah saya kedatangan paket. Ternyata belanja online anak saya. Paket tersebut tidak saja satu barang, tapi sampai tiga barang dalam satu hari. Saya kaget. “Kok banyak betul nak,” ujar saya kepada sang anak.

 

“Iya yah. Satu kosmetik, satunya lagi bumbu masak dan yang ketiga alat dapur,” ujar anak saya. Sebelum saya tanya lagi, anak berkata,”Mumpung murah dan free ongkir (ongkos kirim),” tuturnya sambil cengengesan.

 

Sebenarnya bukan itu saja paketnya, praktis dalam satu bulan anak saya sering belanja online. Memang sejak masifnya era digital, sekarang sudah banyak platform yang menjual berbagai produk. Apakah itu, makanan, barang rumah tangga, maupun berbagai jasa.

 

Satu sisi masyarakat terbantu dengan adanya komunitas belanja online, tapi satu sisi lain membuat masyarakat menjadi konsumtif. Tidak semua barang yang diperlukan dibeli, tapi tidak sedikit produk yang diorder justru lantaran tertarik dengan iklannya atau bebas ongkirnya.

 

Sesungguhnya, saat ini belanja online telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat modern, terutama sejak perkembangan teknologi dan smartphone. Peralihan dari belanja konvensional ke platform digital ini bukan hanya mengubah cara orang berbelanja, tetapi juga mempengaruhi pola konsumsi secara keseluruhan.

 

Salah satu dampak positif belanja online adalah kemudahan dan efisiensi yang ditawarkannya. Konsumen dapat dengan mudah menjelajahi berbagai produk dari rumah mereka, tanpa harus menghabiskan waktu berkunjung ke toko fisik.

 

Akses yang lebih luas ke berbagai barang, mulai dari produk lokal hingga internasional, memberikan konsumen lebih banyak pilihan. Hal ini mendorong masyarakat untuk berbelanja dengan cara yang lebih terinformasi, memanfaatkan perbandingan harga dan ulasan produk sebelum memutuskan untuk membeli.

 

Namun, belanja online juga memiliki sisi negatif. Salah satunya adalah meningkatnya kecenderungan belanja dadakan (impulsive) akibat berbagai kemudahan penawaran konsumsi.

 

Secara teoritis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep “consumer culture” yang dikemukakan oleh sosiolog Jean Baudrillard. Dia berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, orang tidak lagi membeli barang berdasarkan kegunaan (nilai guna), akan tetapi karena makna simbolis atau citra yang ditawarkan.

 

Dukungan teknologi algoritma pada platform belanja online memperparah kondisi ini melalui “personalized ads” yang menciptakan kebutuhan semu sehingga konsumen merasa harus membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mendesak.

 

Dari perspektif ekonomi makro, hal ini berkaitan dengan teori “propensity to consume” (kecenderungan untuk mengkonsumsi). Kemudahan akses dan penetrasi internet yang mencapai lebih dari 70 persen penduduk Indonesia (menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII) telah menurunkan hambatan transaksi,

 

Penurunan biaya pencarian barang dan adanya insentif psikologis seperti “gratis ongkir” sering kali memicu “impulse buying” yang tidak rasional. Dalam jangka panjang, jika pola konsumsi ini tidak dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan, masyarakat berisiko terjebak dalam budaya utang, terutama dengan maraknya beberapa fitur yang menawarkan gratifikasi instan bagi konsumen.

 

Perubahan ini telah menciptakan ekspektasi baru di kalangan konsumen, di mana kenyamanan, harga yang murah dan kecepatan menjadi prioritas utama. Masyarakat kini lebih mengutamakan efisiensi dalam konsumsi, tetapi hal ini juga menuntut tanggung jawab dalam memilih produk yang lebih berkelanjutan.

 

Kemudahan-kemudahan ini juga mendatangkan peluang kerja bagi beberapa orang. Masyarakat bisa menambah pendapatan dengan menjadi reseller atau dropship.

 

Kemudahan berbelanja ini tidak saja disajikan platform jual beli tapi juga diiiringan dengan pemesanan jasa, seperti, pesan tiket pesawat, tiket KA/bus, hotel, beli motor/mobil bekas, properti dan produk lainnya.

 

Kemudahan ini mendatangkan hal positif dan negatif. Manusia diharapkan cerdas dalam memanfaatkan kemudahan teknologi. Jangan sampai kemudahan tersebut mendatangkan hal-hal yang merugikan konsumen.

 

Pengalaman kecil di rumah ini sepertinya terdengar sepele, tapi barangkali dialami banyak keluarga hari ini. Bagi saya, belanja online bukan soal menolak kemajuan, melain masalah menahan diri. Teknologi memudahkan hidup, namun tetap perlu dikendalikan agar tidak justru mengendalikan kita.*

 

 

Ridarman Bay

Ketua Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Kepri

87 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *