Resensi Buku “Merekam Kepri: Dari Laut ke Ruang Publik” karya Ridarman Bay

Oleh Ilham Muhammad Yasir*

 

MEMBACA buku Merekam Kepri: Dari Laut ke Ruang Publik karya Ridarman Bay terasa seperti diajak berhenti sejenak di tepi dermaga: menatap laut yang luas, lalu menyadari bahwa laut bukan sekadar panorama, melainkan “jalan” yang menghubungkan manusia, tradisi, modernisasi, dan problem sehari-hari di Kepulauan Riau (Kepri).

Ridarman menulis Kepri bukan sebagai brosur pariwisata atau laporan teknokratis, tetapi sebagai ruang hidup yang riuh oleh suara warga tentang sekolah anak, listrik yang padam, harga kebutuhan, sampai sinyal internet yang kadang “menghilang” tepat saat dibutuhkan.

Dari sudut pandang “dari laut” ini, pembaca diajak memahami realitas kepulauan, jarak yang memengaruhi akses, gelombang yang menentukan mobilitas, dan keterbatasan layanan yang tidak selalu dialami kota-kota daratan.

Buku ini terasa kuat karena penulisnya tidak hanya mengamati dari luar, tetapi juga memiliki pengalaman panjang di ruang publik. Ridarman Bay dikenal sebagai wartawan senior, dan ia juga pernah menjadi anggota KPU Provinsi Kepri selama satu periode, Panwaslih serta beberapa kali dipercaya sebagai anggota Tim Pemeriksa Daerah (TPD) Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Jejak pengalaman ini membuat refleksinya tentang birokrasi, demokrasi lokal, dan dinamika kebijakan terasa lebih “berisi”, karena ia memahami denyut institusi dan tekanan kerja tata kelola dari dalam.

Salah satu tema sentral yang menonjol ialah transformasi digital. Ridarman memandang digitalisasi sebagai persoalan keadilan, bukan sekadar tren. Teknologi memang membuka akses belajar, layanan publik, dan peluang ekonomi, tetapi di Kepri dengan karakter kepulauan, digital juga berarti ketimpangan infrastruktur, blankspot, listrik yang tak selalu stabil, hingga kisah-kisah warga yang harus “berburu sinyal”.

Ridarman menegaskan bahwa teknologi tidak otomatis menyelesaikan masalah. Digitalisasi hanya bermakna bila dibarengi kesiapan manusia, konsistensi kebijakan, dan keberpihakan pada pulau-pulau kecil agar tidak tertinggal.

Ia menuliskan isu sosial-ekonomi yang sangat dekat dengan ruang publik. Dalam tulisan “Pemuda Kepri: Saatnya Jadi Pemain, Bukan Penonton”, Ridarman mendorong generasi muda agar tidak terjebak mental menunggu. Ia membuka kemungkinan menjadi “pemain” melalui kerja jarak jauh, ekonomi kreatif, pasar freelance, dan peluang lintas negara, sebagai sesuatu yang masuk akal mengingat posisi Kepri yang strategis di jalur regional.

Namun optimisme itu disandingkan dengan realitas getir pada tulisan “Tanjungpinang, Kota di Ujung Slip Gaji”: sebuah potret kota yang perputaran ekonominya mudah tersendat ketika sumber pendapatan tertentu mengetat. Ridarman menyoroti dampaknya yang cepat terasa di warung, pedagang kecil, sopir, penjahit, hingga sektor informal. Pesannya tegas, kota ini tidak bisa menggantungkan hidup pada putaran ekonomi yang sempit, namun perlu basis produktif yang lebih beragam dan tahan guncangan.

Ia juga memperluas renungan ke arah masa depan daerah melalui “Tanjungpinang: Ibu Kota yang Mandek”. Ridarman menyentil ironi ibu kota provinsi yang seharusnya memimpin perubahan, tetapi terasa berjalan lambat; gagasan besar sering terdengar, realisasi kerap tertinggal. Pada sisi yang lebih personal dan moral, tulisan “Kabar OTT dan Renungan Hidup” menjadi jeda kontemplatif. Ridarman tidak menjadikannya panggung penghakiman, melainkan pintu refleksi tentang rapuhnya hidup, ujian jabatan, dan pentingnya Amanah, sehingga buku ini tidak hanya bicara pembangunan, tetapi juga karakter dalam kehidupan publik.

Sebagai kumpulan esai, Merekam Kepri tidak selalu menawarkan solusi teknis rinci seperti laporan riset, tetapi kekuatannya terletak pada kemampuannya memantik kesadaran, diskusi, dan evaluasi diri. Ridarman berhasil “merekam” Kepri dengan bahasa yang mudah diikuti dan enak dibaca, sekaligus menantang pembaca untuk bertanya: kemajuan macam apa yang kita kejar, dan siapa yang benar-benar ikut merasakannya?

Pada akhirnya, buku ini cocok dibaca oleh guru, mahasiswa, aparatur, jurnalis, aktivis komunitas, hingga warga umum yang ingin memahami Kepri secara manusiawi dari laut yang membentuk cara hidup, hingga ruang publik yang menuntut nalar, keberanian, dan keteladanan.

 

 

*Peresensi adalah jurnalis, ketua KPU Riau 2019-2024 dan penulis lepas tinggal di Pekanbaru.

 

108 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *