Setiap kali bulan puasa datang, hati saya rasa terenyuh dan bahagia. Ada sesuatu yang menghunjam batin. Rasanya jiwa akan kembali. Kembali kepada siapa? Kembali kepada Allah SWT. Barangkali inilah rindu yang hanya muncul di waktu-waktu tertentu, bukan rindu yang tidak hadir di bulan-bulan biasa.
Walaupun kehidupan tak menentu. Tapi hati merasakan ada sesuatu saat jelang Ramadan. Terkenang waktu masa kecil, bangun sahur, ngantuk-ngantuk makan. Terus sholat subuh di masjid, pulang dan memulai kehidupan.
Sejak pensiun, ritme hidup mulai berubah. Habis sholat subuh biasanya saya main hape. Terus mata mengantuk dan langsung tertidur. Nanti bangun jelang sholat zuhur. Kalau ada kegiatan pagi, itu saya selesaikan dan kembali ke rumah untuk persiapan sholat zuhur.
Habis sholat, melanjutkan kegiatan pagi tadi. Sampai asar. Asar sholat dan persiapan berbuka puasa. Begitu seterusnya. Malam magrib dan isya di masjid yang kalangkala dilanjutkan dengan tarawih berjemaah. Atau kalau tidak, tarawih sendiri di rumah, katanya sesuai sunah Nabi.
Sejak beberapa waktu ini, saya justru merasakan puasa itu jangan hanya satu bulan, akan tetapi bisa lebih lama lagi. Selain karena ibadahnya, bulan puasa justru menimbulkan banyak hal positif. Habis mandi pagi tidak perlu memikirkan sarapan dan makan siang.
Badan terasa bugar. Dan utamanya, suasana malam terasa sahdu. Jam berapapun kita ke masjid, tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah rasa nyaman. Betul barangkali itulah janji Allah SWT dimana selama satu bulan penuh jin dan setan diikat sehingga tidak bisa mengganggu manusia.
Menurut saya, bulan ramadan bukan hanya ritual ibadah menahan lapar dan dahaga semata. Lebih dari itu, hati jadi tenang, pikiran jadi jernih. Hubungan sama Allah, dengan saudara, dan sama sahabat terasa lebih baik. Itu sebab, kenapa bulan ramadan sangat istimewa.
Makanya, saya sering berpikir, ibadah ramadan mestinya bisa diperpanjang lebih dari satu bulan. Bulan Ramadan memang bulan penuh rahmat. Rasanya kalau bersedekah di bulan puasa hati menjadi legowo. Karena Allah janjikan orang yang berbuat baik di bulan ramadan, termasuk bersedekah, maka akan dilipatgandakan pahalanya.
Biasanya tidak terasa, memasuki 10 hari terakhir, masjid sudah memanggil untuk mengadakan itikaf. Entah kenapa, pada bulan Ramadan hati selalu tergerak ke masjid untuk itikaf di 10 hari terakhir. Di masjid bisa melakukan sholat sunnah, mengaji, berzikir, dan berdoa. Rasanya hati kian dekat dengan Allah dan balik dari masjid hati jadi plong.
Tidak ada rasa stres dan kecemasan jelang puasa Ramadhan. Hati malah kian senang dan tidak sabar menunggu datangnya bulan suci Ramadan.
Berlimpah hal positif yang diperoleh selama Ramadhan, kendati diakui tidak banyak nilai religius yang berubah pada diri yang dhaif ini. Bacaan sholat tidak bertambah, mengaji alquran masih seperti-seperti itu juga. Rajin sholat di masjid hanya pada bulan puasa saja.
Sehingga istri saya selalu heran. “Kok ayah bisa sholat ke masjid satu bulan penuh dan itikaf di masjid saat Ramadan. Tapi kenapa habis lebaran, sholat ke masjidnya tidak ada lagi,” ujar isteri saya terpana.
Saya cuma bisa diam sambil berucap: “Itulah hebatnya ibadah di bulan Ramadhan,” ujar saya.
Saya pun tidak tahu juga, kenapa ibadah saya bisa mendekati sempurna saat bulan Ramadan dan kembali seperti biasa lagi pada bulan-bulan biasa.
Pada setiap Ramadan, saya selalu berdoa semoga ibadah puasa saya tahun ini lebih bagus daripada bulan Ramadan sebelumnya. Itu doa yang selalu saya ucapkan di setiap sholat.
Selain ibadah, sikap bersedekah, berbagi juga meningkat. Sepertinya kalau tidak bersedekah dalam satu hari, rasanya ada yang kurang. Malah supaya saya selalu bisa bersedekah, maka jumlah uang yang disedekahkan itu dikurangi sesuai dengan rupiah yang saya miliki. Yang penting bersedekah.
Saya sempat membaca data dari BAZNAS, bahwa terdapat kenaikan kepercayaan masyarakat untuk menyalurkan dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) sebesar 32,5% selama Ramadan 2024 dibandingkan periode sebelumnya.
Jadi ya, ramadan memang bulan yang punya rahmat yang besar. Bagi saya, Ramadan bukan sekedar bulan untuk menjalani ibadah puasa saja, tapi bulan yang punya banyak makna positif bagi nilai relijius dan kehidupan saya.
Itu sebab, jalanilah ibadah puasa Ramadan dengan sungguh-sungguh. Karena ianya bulan yang memang dijanjikan Allah SWT manfaatnya. Kata tuan guru, dosa kita bisa hilang hanya pada bulan Ramadan.
Yuk kita sambut dan arungi ibadah bulan puasa tahun ini dengan hati tawadhu dan mudah-mudahan rasa ikhlas dan kedekatan dengan Allah SWT bertahan lebih lama, bahkan setelah ramadan berlalu. Aamiin….*
- Ridarman Bay
- Ketua MW KAHMI Provinsi Kepri












