TANJUNGPINANG (infoluarbiasa.com) – Budaya Melayu di Kepulauan Riau (Kepri) dinilai sedang mengalami krisis identitas. Generasi muda cenderung memaknai budaya sekadar simbol seremonial—seperti pakaian adat dan kuliner—tanpa menyerap nilai etika, adab, dan musyawarah yang menjadi intinya.
Peringatan kritis ini mengemuka dalam diskusi terarah “Identitas vs Globalisasi” yang digelar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Kepri, Sabtu (16/5) di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, di Tanjungpinang.
Diskusi terarah putaran 6 tersebut dibuka Wakil Ketua PWM Kepri, Sochib, SH, dan menghadirkan narasumber Ketua LAM Kepri Kota Tanjungpinang, Datok Wira Setia Utama, Dr. HMJ Esram. MH.
Kemudian, Ketua Dewan Pendidikan Kepri, Dr. Encik Abdul Hajar, MM, serta Kabid Adat Tradisi dan Karya Budaya Tak Benda Dinas Kebudayaan Kepri, Harry Prima Putra, M.Si. Diskusi dipandu moderator Donie Tuah Fitriano Putra, S.IP, MAP, pengurus LHKP Kepri.
HMJ Esram, menegaskan bahwa pendekatan pelestarian budaya yang hanya fokus pada aspek visual sudah tidak relevan di era digital. “Kita membutuhkan esensi, bukan sekadar etalase,” tegas mantan Kadis Kebudayaan Kepri itu.
Ia menilai nilai-nilai seperti toleransi, gotong royong, dan resam Melayu harus menjadi “kompas navigasi” bagi pemuda dalam menghadapi arus globalisasi, bukan sekadar hiasan di museum.
Senada dengan Esram, Harry Prima Putra menyoroti fungsi budaya Melayu sebagai modal sosial. Menurutnya, tanpa jati diri yang kuat, pemuda Kepri akan kehilangan arah dan sulit bersaing di pergaulan internasional.
“Nilai estetis dan etis ini bersumber dari budaya lokal. Jika itu hilang, kita kehilangan daya tawar,” ujarnya.
Dr. Encik Abdul Hajar, menambahkan bahwa perdebatan tentang “perlu atau tidaknya” budaya Melayu sudah usang. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana nilai tersebut diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya datang memakai pakaian Melayu bukan untuk seremoni, tapi untuk menegaskan bahwa kita adalah bangsa Melayu. Itu harus tercermin dalam sikap, bukan hanya baju,” tegas dosen pascasarjana Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) itu.
Diskusi menyimpulkan bahwa pelestarian budaya harus bergeser dari hafalan simbol menuju pengamalan nilai. Tanpa itu, budaya Melayu dikhawatirkan hanya akan bertahan sebagai artefak sejarah, bukan panduan hidup.
Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris MES Kepri, Dr. Dwi Vita Lestari, Sekretaris ICMI Kota Tanjungpinang, Dr. Ramli Muasmara, PD Muhammadiyah Kota Tanjungpinang, Jhonsandre, PC Nahdatul Ulama (NU), KH Zulbat, BEM perguruan tinggi se-Kota Tanjungpinang, OSIS SMA se-Kota Tanjungpinang, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Menur, serta beberapa pengurus PWM dan LHKP Kepri.(red)












