Kamis pagi jelang siang (1/10/2026), saya ngupi bersama sejumlah wartawan. Ada Ady Indra Pawennari, Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK); Amril, Sekjen KJK; Ambok Akok, Bendahara KJK; Suyono Saeran, Timsus Gubernur Kepri; Henky Muhari, Komisioner KPU Kota Tanjungpinang; dan seorang wartawan Bacadulu.id.
Siapa Ady Indra Pawennari? Wartawan sejak 1996, pendiri KJK, dan Bendahara PWI Kepri 2024. Tapi yang membuatnya layak dikenang bukan jabatan itu, melainkan kantor PWI Kepri sekitar Rp1 miliar, UKW yang dibiayai sendiri, dan kepeduliannya pada wartawan, semua tanpa banyak bicara.
Saya amati, ternyata setiap kali ngupi, yang rutin hadir itu Ady Indra Pawennari. Beberapa kali saya hadir, baik sebelum, saat, maupun setelah bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman pada 12 September 2026, Ady selalu hadir dengan setia.
Akhirnya ada anekdot di antara kawan-kawan, kalau tidak ada Ady, maka yang banyak dipesan cuma air putih. Tapi kalau ada Ady, yang dipesan bisa air berwarna (kopi atau kopi susu). “Ini kalau tak ada Ady, di meja penuh air putih. Tapi kalau ada Ady, mulai berwarna gelas di atas meja ini,” kelakar kawan-kawan sambil tertawa terbahak-bahak.
Artinya, setiap ngupi, Ady yang menjadi bandar. Minum dan makan apa saja. Tapi kalau tidak ada Ady, semua mulai berhemat karena tidak ada yang bersedia menjadi bandar. Itu sebabnya mereka hanya pesan air putih doang. Ada-ada saja.
Tapi di balik fenomena itu, saya sering termenung. Saat ngupi itu, saya pandang wajah Ady. Terlihat wajah yang teduh dan biasa-biasa saja, tidak jumawa dan tidak ada wajah sombong. Padahal, Ady saat ini berprofesi sebagai pengusaha dengan segudang aktivitas, levelnya pusat lagi.
Mestinya Ady lebih banyak mengurus usahanya dengan mitra-mitra bisnisnya di berbagai tempat, di hotel berbintang, terutama di Jakarta. Tapi faktanya, dia merasa enjoy bertemu dengan rekan-rekan wartawan. Ngupi sambil duduk, berjam-jam.
Ada saja retorika kehidupan wartawan yang dibahas, diiringi gelak tawa yang menandakan suasana cair dan kekeluargaan. Dan aktivitas ngupi itu, Ady selalu yang membayari.
Saya kenal Ady sekitar tahun 1995 di Tanjungpinang. Waktu itu Ady menjadi aktivis Pemuda Pancasila yang sedang mengadakan kegiatan panggung hiburan dengan mendatangkan artis nasional ke Kepri. Untuk mempromosikan kegiatan itu, Ady mengadakan jumpa pers dengan saya, wartawan Riau Pos.
Tak lama setelah itu, tahun 1996, Ady bertransformasi menjadi wartawan. Saat itu dia menjadi wartawan Surat Kabar Mingguan (SKM) Genta, terbitan Pekanbaru. Kepri dulu masih bagian Provinsi Riau. Medianya cuma dua, Riau Pos dan SKM Genta.
Saya ngepos di Kantor Bupati Kepri. Di sanalah Ady ngepos juga. Kalau ada kegiatan Bupati Kepri Abdul Manan Saiman yang perlu liputan, saya dan Ady, ditambah wartawan RRI Tanjungpinang, Desmawati atau Jhon Hendri (alm), akan hadir bersama.
Saya lihat tulisan Ady cukup bersih dan jernih. 5W + 1H-nya jalan. Saya sempat kagum dengan Ady. Tamatan SMA tapi sudah bisa bikin berita kayak wartawan senior. Padahal saat saya kenal dengannya, baru beberapa bulan.
Ady tidak hanya menjadi wartawan SKM Genta, tapi juga menjadi Kepala Biro SKM Genta untuk wilayah Kepri. Jabatan yang cukup berat, karena selain menjadi wartawan, Ady juga memasarkan dan memungut hasil jual koran kepada pelanggannya.
Tapi saya lihat Ady bisa menjalani semua dengan happy. Setiap pagi kami nyanggong di Humas Kantor Bupati Kepri, atau ngupi di kantin Kantor Bupati dengan beberapa wartawan, hingga siang hari. Siang hari, saya balek ke rumah dan bikin berita. Sore, saya ke kantor Riau Pos di Jalan Temiang menyetor berita.
Saya pikir Ady akan berhenti jadi wartawan, lantaran medianya mingguan. Ternyata tidak. Dengan semangat dan rutin, dia selalu ke Kantor Bupati Kepri. Ada tak ada berita, dia selalu hadir. Tapi saat itu, banyak kegiatan di Kantor Bupati Kepri. Praktis setiap hari ada saja yang diberitakan. Saya dan Ady selalu setia bersama mengolah berita. Walaupun bersama, berita yang dihasilkan pasti berbeda.
Saat peliputan ke Lagoi, kami bertiga berangkat bersama. Selain saya dan Ady, ada wartawan RRI yang ikut, Jhon Hendri. Kami dijemput mobil BRC Lagoi dan menginap satu malam di sana. Di Lagoi kami sama-sama mengolah sumber berita. Dan saat balek ke Tanjungpinang, hasil berita kami tidak ada yang sama.
Kami masing-masing menulis dengan sudut pandang berbeda. Di situlah saya salut, Ady yang cuma tamatan SMA bisa menulis berita menandingi saya yang lulusan S1.
Pada masa yang sama, sejak 1995, Riau Pos membuat surat kabar jarak jauh yang dikenal dengan nama SCJJ (Sistem Cetak Jarak Jauh). Saat itulah didatangkan Redaktur Pelaksana Taufik Muntasir, Ace. Tak lama kemudian masuklah Socrates. Waktu itu, kalau tak salah, beliau menjadi wartawan JPNN (Jawa Pos News Network) dan ditempatkan di Batam.
Wartawan Batam yang saya kenal ketika itu, Marganas Nainggolan, Erwan Buntaro, Subari, dan Pramono. Juga ada Depan Maju Sihite (alm). Kemudian masuk Candra Ibrahim. Dengan Saibansa Dardani, saya sudah kenal beliau tahun 1994 di kantor Riau Pos Jalan Kuantan, Pekanbaru. Mereka semua sudah kenal Ady di masa itu.
Saat itu, selain mengenal Ady, saya juga mengenal wartawan Kompas, Surya Makmur Nasution, yang bermastautin di Batam. Kalau ke Tanjungpinang, Surya pasti menghubungi Ady. Dan Ady mengajak saya bergabung bertiga.
Tahun 1999, saya pindah ke Pekanbaru karena ada tawaran menjadi Redaktur Pelaksana di koran Harian Kita. Sepengetahuan saya, Ady kemudian pindah menjadi wartawan Sijori Mandiri di Tanjungpinang.
Tak lama Ady bergabung dengan media saya, koran Suara Kita yang belakangan bertukar menjadi Suara Riau. Ady juga sempat mendirikan media online pertama di Riau tahun 2001 bernama bintanpos.com. Media online ini maju pesat. Waktu itu banyak media massa, koran dan online, yang mengutip hasil liputan bintanpos.com.
Tahun 2004 saya sekolah Magister Manajemen di Universitas Islam Indonesia (MM UII) di Yogyakarta. Dalam periode 2004-2009, hubungan saya dengan Ady agak terputus. Tak ada kontak-kontakan lagi.
Akhir 2009 saya kembali ke Tanjungpinang. Saat itu saya jumpa lagi dengan Ady. Ternyata Ady masih menjalani profesi jurnalis. Malah saat itu kami berdua mendirikan media online keprionline.com. Tapi media ini bertahan enam bulan saja, karena Desember 2009 saya dilantik menjadi Ketua Panwaslu Kota Tanjungpinang.
Tahun 2009 sampai 2020 saya relatif absen dari dunia pers, karena waktu saya lebih banyak sebagai penyelenggara Pemilu. Ady pun sempat beralih profesi sebagai pengusaha sabut kelapa dengan basis di Sungai Guntung, Inhil, Riau. Dia beserta keluarga sempat pindah ke Sungai Guntung.
Tak lama, Ady pindah lagi ke Tanjungpinang dan bergabung dengan Alias Wello, Bupati Lingga, sebagai Tenaga Ahli. Selama lima tahun Ady mendampingi Alias Wello dan kini berdiri sendiri.
Saya dengar dia beralih menjadi pengusaha tambang pasir kuarsa. Malah menjadi Ketua Umum perkumpulan pengusaha tambang pasir kuarsa itu.
Tahun 2022 saya mendirikan media online infoluarbiasa.net. Dan tahun 2024, Ady menjadi Bendahara PWI Kepri. Saya heran, banyak profesi yang dilakoni Ady, ternyata dia tetap keukeuh pada dunia jurnalistik.
Saya dengar, fasilitas kantor PWI Kepri semua difasilitasi Ady. Mulai dari sewa ruko untuk kantor selama lima tahun, renovasi ruko menjadi kantor yang representatif sebesar Rp700 juta, hingga acara seremoni pelantikan.
“Untuk pengadaan kantor dan pelantikan pengurus PWI Kepri periode 2023-2028 waktu itu, uang Pak Ady habis sekitar Rp1 miliar lebih,” ujar seorang wartawan senior.
Saya berdecak kagum dengan sepak terjang Ady. Saya lihat, selama di Provinsi Riau, ada juga beberapa wartawan yang punya kerja sampingan sebagai pengusaha sawit yang berhasil, tapi hasilnya lebih banyak untuk yang bersangkutan. Tak mengalir ke organisasi wartawan.
Tapi Ady, sebagian hasil kerja sampingannya diberikan untuk komunitas wartawan di Kepri. Rp1 miliar lagi. Setelah tidak menjadi Bendahara PWI Kepri, dia mendirikan Komunitas Jurnalis Kepri, disingkat KJK.
Organisasinya bukan sekadar papan nama. Dalam berbagai kesempatan, dia mengadakan aksi, mulai dari menanam pohon, donor darah, peringatan Hari Pers Nasional (HPN), hingga mengadakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dengan menjalin kerja sama dengan lembaga penguji UPN Veteran Yogyakarta. Semua biaya ditanggung oleh seorang Ady Indra Pawennari.
Cukup sampai di sana saja? Tidak. Ady malah mengajak sejumlah wartawan membesuk Trisno Aji Putra ke rumahnya, begitu mengetahui wartawan bersangkutan sakit selama delapan tahun. Ady malah membuat berita untuk mengetuk hati teman-teman wartawan agar mau berdonasi.
Dari beberapa kali jumpa, saya melontarkan ide supaya wartawan meninggalkan jejak, yakni dengan membukukan hasil karya wartawan berupa tulisan opini. Ady dan Suyono Saeran setuju.
Padahal Suyono sudah punya 5-8 buku, salah satunya buku tentang Ansar Ahmad, Gubernur Kepri. Kami bertiga berencana membuat buku “Catatan Pinggir Tiga Wartawan Pulau”. Buku itu tinggal finishing cetak.
Saya sempat menerbitkan buku kumpulan opini berjudul Merekam Kepri: Dari Laut ke Ruang Publik. Untuk buku kedua, saya minta Ady yang memberi kata pengantar, karena menurut saya Ady wartawan senior dan sudah memahami tulisan saya.
Ady pun memfasilitasi bedah buku saya berjudul Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman di KJK, pada Sabtu 12 September 2026, yang dihadiri para intelektual, penyelenggara pemilu, beberapa wartawan senior, Ketua KIP dan Ketua KPID, serta sejumlah penggiat literasi di Kota Tanjungpinang.
Dalam sambutannya, Ady menyediakan diri memfasilitasi kegiatan bedah buku dan literasi karya wartawan lain.
“Kami mempersiapkan diri untuk memfasilitasi kegiatan literasi, seperti bedah buku rekan wartawan lain di kantor kami,” ujar Ady sumringah.
Fasilitasi yang saya dapat saat bedah buku: spanduk dan makanan ringan. Begitulah kepedulian Ady terhadap maju dan suksesnya literasi di kalangan wartawan yang ada di Kota Tanjungpinang.
Ketika ngupi siang itu, iseng-iseng saya bertanya, kenapa Ady sedemikian perhatian kepada para kuli tinta, tidak saja di Kota Tanjungpinang, tetapi juga di Kepri.
“Mungkin karena nurani saya sudah di dunia kewartawanan ini. Jadi saya ingin berbagi. Dan saya senang membantu orang,” ujar Ady yakin.
Sekarang, Ady juga sudah membuat media online bersama-sama rekan wartawan. Dia terjun langsung mengurus media tersebut. Dengan akses yang dimiliki Ady dan rekan-rekan wartawan lain, saya yakin media online yang dibikin Ady akan berkembang pesat dan maju. Pada gilirannya, bakal meninggalkan jejak di kalangan generasi muda tempatan.
Saya yang duluan menjadi wartawan, yang kemudian diikuti Ady. Sekarang justru sumbangsih Ady yang lebih dominan dalam memajukan dan mengembangkan entitas pers di Kepri.
Ada yang tak kenal Ady?
Kadang terpikir, Ady saja yang sedemikian banyak aktivitasnya untuk jurnalis, masih ada yang tidak kenal dengannya. Bagaimana dengan diriku yang cuma menulis opini dalam jagad kewartawanan di daerah ini?(ridarman bay)












