Kembali Tunjukan Empati, KJK Bezuk Wartawan Sakit

TANJUNGPINANG (infoluarbiasa.net)— Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) kembali menunjukkan bahwa solidaritas antarwartawan tidak berhenti pada slogan. Begitu mendengar kabar mengenai Trisno Aji Putra, mantan wartawan Tribun Batam, yang telah lama terbaring sakit, Ketua Umum KJK Ady Indra Pawennari tidak menunggu lama, langsung mengajak bezuk.

 

“Ayolah kita pergi sekarang. Kalau dijadwalkan bisa tak jadi pergi nih,” ujarnya dengan wajah serius kepada para jurnalis yang lagi ngupi bareng, sesaat setelah kabar itu ia terima.

 

Kunjungan pun berlangsung Ahad siang (6/9) di kediaman Aji, di Jalan Soekarno Hatta, Lorong Buntu, samping Kantor Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang.

 

Aktifitas bezuk Trisna Aji Putra ini merupakan aksi solidaritas yang ditanam KJK untuk kesekian kalinya. Tidak hanya peduli dengan nasib wartawan, KJK juga telah melakukan peningkatan kompetensi para kuli tinta lewat pemberian Ujian kompetensi Wartawan (UKW) gratis bagi jurnalistik Kepulauan Riau, baru-baru ini.

 

Aji harus berjuang melawan sakit menahun sejak mengalami kecelakaan lalu lintas delapan tahun silam di Jalan Suka Berenang, Tanjungpinang. Kaki dan tangan kanannya belum bisa digunakan sejak peristiwa itu, memaksanya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kedatangan para wartawan sore itu membuat wajahnya sumringah.

 

Rombongan KJK yang dipimpin Ady menyerahkan bantuan tali asih sebagai bentuk kepedulian. Turut mendampingi Sekretaris Jenderal KJK Amril Agin, Bendahara Umum Ambok Akok, serta dua jurnalis senior Kepri, Ridarman Bay dan Suyono.

 

“Pena kita mungkin berbeda, media tempat kita bernaung pun tidak sama. Namun, kita satu rahim profesi, jurnalis. Ketika ada satu jari kita yang terluka, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya,” kata Ady di sela-sela kunjungan.

 

Baginya, kedatangan bersama rombongan ke rumah Aji adalah upaya merajut kembali rasa persaudaraan yang tak boleh putus oleh waktu.

 

Mantan wartawan Harian Sijori Mandiri tahun 2001 itu mengajak seluruh insan pers di Kepulauan Riau mempererat tali persaudaraan dan saling menguatkan, terutama saat ada sejawat yang sedang tertimpa musibah.

 

“Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam sunyi di atas tempat tidur. Mari kita lepaskan sejenak baju organisasi dan ego sektoral demi sebuah kemanusiaan. Jika bukan kita, sesama kuli tinta, lalu siapa lagi yang akan saling mendekap dan peduli pada nasib saudara kita?” ujar Ady dengan mata berkaca-kaca.(red)

17 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *