Sore itu (14/8) saya ditelepon teman, Suyono. Ngajak ngupi. Saya pikir berdua saja. Ternyata di sana sudah ada banyak orang. Ada Ady Indra Pawennari (Ketua Komunitas Jurnalis Kepri), Suyono Saeran (staf khusus Gubernur Kepri), Hengky Mohari (komisioner KPU Kota Tanjungpinang), Amril Agin (Sekretaris KJK), dan Ambok Akok (Ketua UKW). Semua adalah wartawan.
Pembicaraan awal cuma tanya aktifitas sehari-hari. Saat itu, saya lihat Suyono sepertinya menyerahkan bukunya yang berjudul Ansar Ahmad. Karena di samping Ady ada buku dengan judul “Ansar Ahmad”. Karya Suyono tentang sosok Ansar Ahmad, Gubernur Kepri sekarang. ‘Saya sudah terbitkan lima buku bang,” ujar Suyono dengan wajah datar. Seolah-olah menulis sosok seorang gubernur merupakan hal sepele bagi dia.
Saya saja yang sudah 32 tahun jadi wartawan, lebih lama dari Suyono, belum pernah membikin buku tentang, Kepala Dinas, misalnya. Suyono yang membuat buku tentang sosok gubernur, wajahnya biasa saja. Tidak ada kesombongan.
Diantara berenam itu, yang sudah jadi penulis buku, memang saya dan Suyono. Ady dan Hengki, menurut pengakuannya, cuma pernah menulis beberapa opini. “Yang saya punya entah dimana tulsan itu. Tidak ada pula disimpan,” ujar Ady santun.
Sebagai sesama wartawan, saya ingin mengajak rekan-rekan wartawan, terutama yang ada saat ngupi itu, memberi nilai tambah kepada profesi wartawan. Menurut saya, wartawan itu mesti meninggalkan bekas, jejak sejarah untuk generasi kelak. Tapak wartawan itu, ya lewat tulisan. Oleh karenanya, saya mengajak yang sudah punya tulisan untuk membukukan kumpulan tulisan opini yang sudah dibuat.
“Ya betul, saat membaca buku saya beberapa tahun lalu, saya kaget. Kok bisa ya saya bikin tulisan seperti ini,” timpal Suyono tertawa renyah sambil mengisap rokoknya. Ady tersenyum dengan gelas kopi di tangan kanannya.
Tidak itu saja. menurut saya, di Kepri perhatian Pemprov terhadap dunia kewartawanan relatif minim dibandingkan propinsi lain. Di Riau, entitas wartawan diperhatikan. Kantor PWI nya bagus dan berada di jalan protokol. Mereka juga dapat bantuan hibah dari pemprov setempat. Kemudian, hibah tanah dan hibah uang untuk pembangunan perumahan untuk wartawan.
Di Sumatera Utara, di Sumatera Selatan dan Sumatera Barat, juga begitu. Dapat perhatian dari pemerintah setempat. Malah di Padang ada kawasan perumahan wartawan, yang diberi nama Wisma Warta. Sekarang daerah itu termasuk perumahan elite. Sementara di Kepri, boro-boro dapat perumahan wartawan, di undang untuk kegiatan Pemprov saja sangat kurang. Kecuali untuk peliputan. Itu pun cuma segelintir wartawan saja.
Itu lah salah satu pokok bahasan yang saya sampaikan pada pertemuan ngupi sore itu. Sampai bubaran, kami tinggal berempat. Sementara Amril dan Ambok Akok, pamit duluan. Jika hari tidak jelang magrib, mungkin diskusi akan berlangsung lebih lama. Karena selain ngupi, suasana makin syahdu dengan aura silaturahim yang kuat antar sesama wartawan. Meski garis hidup masing-masing kini berbeda.
Magrib menjelang, kami pun bubar. Namun ajakan tadi terus terngiang: wartawan perlu membukukan tulisannya sendiri, untuk memotret hasil karyanya dalam bentuk artikel. Sebab kalau bukan wartawan sendiri yang menghimpun tulisannya, siapa lagi yang akan melakukannya?
Sampai di rumah. Masuk WA Ady. Dia setuju dengan usulan saya untuk membuat ontologi buku kumpulan tulisan beberapa wartawan. Saya bilang, masing-masing wartawan menulis beberapa tulisan, nanti setelah terkumpul 25-30 artikel, dijadikan satu buku dengan penerbitnya Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).
Di ujung malam, masuk WA Ady dan Suyono yang menulis hasil ngupi sore itu. Saya gembira, ternyata pola kerja wartawan lama masih berjalan. Satu peristiwa, tapi tiga angle. Satu silaturahim dimaknai sama tapi dalam sudut pandang berbeda.
Saya langsung ingat fenomena media online sekarang. Satu berita dimuat oleh banyak media, dengan satu sudut pandang. Bahasa halus dari copy paste. (ridarman bay)











