Dari Shalat Berjamaah Hingga Fardhu Kifayah, Transformasi Nyata Masyarakat Pulau

TANJUNGPINANG (infoluarbiasa.net)— Kehadiran para da’i di pulau-pulau pesisir Kepulauan Riau selama program pengabdian Dewan Dakwah Kepri periode Agustus 2025–2026 terbukti membawa perubahan sosial dan keagamaan yang signifikan, demikian terungkap dalam forum Diseminasi Amal Dakwah di Gedung Satu Gurindam UMRAH, Tanjungpinang, Rabu (26/8).

 

Sekretaris Umum Dewan Dakwah Kepri, Marsudi, S.Sos, M.Si, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas laporan capaian kualitatif para da’i di lapangan. Menurutnya, indikator keberhasilan dakwah kepulauan terlihat dari hidupnya kembali syiar Islam di desa-desa yang sebelumnya sangat minim pembinaan keagamaan.

 

“Laporan para da’i meyakinkan kita betapa dahsyatnya perubahan di lapangan. Ada pulau yang sebelumnya memiliki mushalla tetapi tidak pernah ada shalat lima waktu berjamaah, kini rutin mengumandangkan azan dan makmur dengan jamaah. Dulu, jika ada warga meninggal dunia, masyarakat bingung karena tidak ada yang mampu mengurus jenazah sehingga harus memanggil petugas dari pulau sebelah. Sejak da’i Dewan Dakwah datang, mereka tidak hanya mengurus fardhu kifayah, tetapi juga mengkader warga setempat hingga mahir,” tegas Marsudi.

 

Marsudi menambahkan, para da’i juga sukses merintis Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) baru di lokasi pengabdian. Anak-anak pesisir yang sebelumnya tak tersentuh pendidikan Al-Qur’an kini telah lancar membaca Al-Qur’an.

 

Dalam forum tersebut, salah seorang da’iah pengabdian, Ismiati (asal Banten), membagikan pengalamannya selama bertugas. Ia sempat mengabdi selama 5 bulan di Lombok Barat mengajar di SMP IT Insan Budi Mulia, sebelum diterjunkan ke pesisir pulau karimun di Kepulauan Riau. Di lokasi pengabdian, Ismi tidak hanya mengajar Sirah Nabawiyah dan Hadis Arba’in, tetapi juga merangkap mengajar Matematika dan Penjas karena terbatasnya tenaga pengajar.

 

“Selama satu tahun penuh, kami tidak pernah pulang kampung, bahkan saat Ramadan dan Idul Fitri. Kami hidup menyatu bersama warga setempat, makan apa yang dimakan warga. Walau akses listrik dan keterbatasan sinyal, kehangatan masyarakat pesisir membuat kami bertahan. Alasan utama kami bertahan adalah melihat semangat anak-anak pulau yang begitu haus belajar Al-Qur’an,” tutur Ismiati.

 

Marsudi menegaskan, keberhasilan ini membuktikan bahwa pendekatan dakwah Dewan Dakwah yang berbasis sentuhan hati (Dakwah Bil Hikmah) sangat efektif dalam membangun karakter spiritual dan kemandirian masyarakat pulau.(red)

18 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *