Ahad siang (16/8) saya janji sama Okta untuk berjumpa mengambil surat rekomendasi Pimpred dari media online yang sudah terverifikasi Dewan Pers. Dan Okta merupakan Pimpred dari media massa yang telah terverifikasi tersebut. Surat itu saya butuhkan karena saya mau mengajukan Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang Utama. Syaratnya, sudah menjadi wartawan minimal 10 tahun, punya tiga buku ber-ISBN dan mendapat rekomendasi dari Pimpred tiga media massa yang terverifikasi Dewan Pers.
Untuk dua syarat, saya sudah terpenuhi, sudah 32 tahun jadi wartawan, dan punya lima buku ber-ISBN. Syarat dukungan dari tiga Pimred, sedang saya usahakan. Tapi sekarang ini, saya sudah dapat tiga rekom dari tiga Pimpred yang terverifikasi, yakni Pimpred Suarasiber.com, katasiber.id, dan radarsatu.com.
Saya pikir bakal bertemu dengan Okta saja, ternyata di warung kopi itu sudah ada Ady Indra Pawennari, Amril Agin, dan Ambok Akok. Belakangan, muncul Hengky Mohari. Jadinya, ramai lagi silaturahim tersebut.
Namanya pertemuan wartawan, yang dibahas soal berita, pers dan dunia kewartawanan. Mulai dari lahirnya PWI di Kepulauan Riau dengan kantor di Kota Tanjungpinang, hingga perkembangan entitas PWI pusat. Tidak itu saja, kami juga bernostalgia saat pertama kali menjadi kuli tinta. Dari cerita itu, jelaslah saya yang paling banyak makan asam garam. Saya sudah jadi wartawan tahun 1994. Sedangkan Ady Indra Pawennari, menjadi wartawan sejak tahun 1996.
Saya juga menceritakan kenapa saya mengajukan diri untuk akselerasi UKW jenjang utama. Asal muasalnya tawaran itu muncul dari Saibansah Dardani, teman satu grup di Riau Pos dulu, yang sekarang menjadi Ketua PWI Kepulauan Riau. Menurut Saiban, Dewan Pers menerbitkan peraturan untuk mengadakan UKW akselerasi bagi wartawan senior yang sudah mengabdi minimal 10 tahun.
Peraturan itu dikeluarkan oleh Dewan Pers dengan Nomor 4/Peraturan-DP/X/2025 tentang Uji Kompetensi Wartawan Akselerasi Jenjang Utama, tertanggal 30 Oktober 2025. Peluang ini, sepertinya mesti saya ambil. Itu sebab, saya mulai mencari info siapa saja Pimpred yang berkualifikasi wartawan utama dan menjadi Pimpred di media massa yang terverifikasi Dewan Pers RI, di Kota Tanjungpinang.
Itulah indahnya pertemanan sesama wartawan.. Awalnya yang saya cari cuma satu orang Pimpred, Oktarian. Ternyata di warung kopi itu, semua ikut terlibat aktif. Amril sibuk menghubungi Pimpred yang medianya terverifikasi Dewan Pers. Ady pun tak mau kalah. Malah dia langsung menghubungi Sigit, owner suarasiber.com, dan meminta Pimprednya mengeluarkan rekom untuk saya.
Tak lama berselang, Nur Ali Mahmudi, Pimpred suarasiber.com, menelepon dan mengatakan surat rekom itu sudah selesai. Saya yang menjemput. Ternyata tidak. Yang menjemput, Ambok Akok. “Bapak disini aja, biar saya yang jemput. Pakai motor cepat lagi,” ujarnya slambe, padahal dia pemilik radarsatu.com. Saya senang bercampur trenyuh. Kenal tidak begitu lama, kecuali Ady Indra, tapi sudah mau berkorban untuk saya. Mengharu biru.
Dari awalnya cuma satu Pimpred yang saya cari, sekarang sudah ada rekomendasi dari tiga Pimpred yang saya dapatkan. Tinggal mengajukan surat permohonan ke Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani, untuk diteruskan ke Dewan Pers.
Bagaimana kalau tidak disetujui? Kita lihat nanti. Tapi pada prinsipnya, saya mengajukan UKW Akselerasi Jenjang Utama itu untuk membuktikan bahwa saya pernah menjadi wartawan di Kota Tanjungpinang. Dan banyak manfaat yang sudah saya peroleh dari profesi pewarta ini. Baik manfaat rezeki, hingga manfaat jaringan. Teman lama non wartawan, selalu menyapa saya, ”Awak masih wartawan ya,”.
Manfaat jaringan itu bukan sekadar kata-kata. Peristiwa sore itu — di mana Amril, Ady, dan Ambok Akok bergerak tanpa diminta demi selembar surat rekomendasi saya — adalah buktinya sendiri: solidaritas yang tumbuh dari puluhan tahun menjalani profesi yang sama.
Dan solidaritas semacam itu bukan hal baru bagi saya. Zamannya Ketua PWI Tanjungpinang, Zakmi, tahun 2021, malah pernah memberi saya parcel lebaran. “Ini kami berikan kepada jurnalis senior sebagai apresiasi PWI kepada anggotanya yang sudah puluhan tahun masih komit dengan profesi wartawannya,” ujar Zakmi meyakinkan.
Dari parcel lebaran hingga rekom yang dijemput pemilik media dengan motor, satu benang merahnya sama: profesi wartawan, betapapun kerasnya, selalu menyisakan orang-orang yang mau berdiri di belakang sesama koleganya.
Melihat kesetiakawanan seperti itu, rasanya khianat semestinya tidak punya tempat di antara sesama kuli tinta. Dan itulah, barangkali, alasan paling jujur kenapa saya masih betah di profesi ini setelah 32 tahun.(ridarman bay)












