Kopassus Dakwah Jaga Akidah Pesisir Kepri

TANJUNGPINANG (infoluarbiasa)— Di balik gemerlap pusat kota dan hiruk-pikuk pelabuhan internasional, Kepulauan Riau menyimpan sisi lain yang sunyi: pulau-pulau pesisir terpencil, dengan akidah yang kerap terkikis arus modernitas dan pendidikan yang masih jauh dari kata cukup. Di sanalah, selama setahun terakhir, para da’i pengabdian bertempur. Bukan dengan senjata, melainkan dengan ketulusan dan ilmu.

 

Mereka adalah “Pasukan Khusus Dakwah”—sebutan yang disematkan Bendahara Umum Dewan Dakwah Kepri, Dr. Hos Arie, dalam forum Karguzari Amal Dakwah di Gedung Satu Gurindam UMRAH, Dompak Tanjungpinang, pekan lalu. Sebutan itu bukanlah hiperbola. Ia lahir dari pengakuan atas mental baja yang harus dimiliki para da’i saat diterjunkan ke titik-titik rawan krisis akidah dan pendidikan, tanpa pernah mengeluh tentang fasilitas yang serba minim.

 

“Program penugasan ini adalah program vital dan berkelanjutan. Para da’i ini adalah ‘Kopassus Dakwah’ kita,” ujar Dr. Hos Arie dengan suara tegas di hadapan para pengurus dan undangan. Namun, di balik semangat heroik itu, ia menyadarkan semua bahwa kepahlawanan tak cukup hanya mengandalkan keberanian. Diperlukan peta yang jelas, tolok ukur yang terukur, dan keberlanjutan yang terencana.

 

Maka, muncullah gagasan besar: Peta Dakwah dan Desa Binaan Berkelanjutan. Bukan lagi pendekatan sporadis yang sulit diukur dampaknya. Dr. Hos Arie menekankan perlunya sebuah sistem yang merekam secara akurat kondisi before and after—sebelum dan sesudah kehadiran da’i di suatu desa. “Harus ada tolok ukur. Perubahan kualitas keagamaan desa itu harus terdata secara akurat,” tegasnya.

 

Lebih dari sekadar penempatan, Dewan Dakwah Kepri kini mendorong modernisasi tata kelola dakwah. Mulai dari pelaporan berkala secara real-time, hingga wacana pembentukan Akademi Dakwah di daerah. Semua ini, menurut Dr. Hos Arie, adalah bentuk pertanggungjawaban besar atas amanah dana umat yang dikelola melalui Laznas Dewan Dakwah. Dana yang tidak hanya membiayai penugasan, tetapi juga beasiswa kuliah 100% gratis bagi para da’i, dari masa studi hingga masa tugas pengabdian.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Dakwah Kepri, Dr. Suryadi mengungkap sisi lain dari sistem yang disiplin. Beasiswa penuh dari Laznas Dewan Dakwah diberikan dengan akad pengabdian yang jelas. Sebuah ikatan suci yang berimplikasi hukum: bila seorang mahasiswa atau da’i melanggar aturan hingga dikeluarkan dari kampus, maka wajib mengembalikan seluruh biaya pendidikan yang telah dipakai. Ini bukan sekadar aturan, melainkan bentuk penghormatan kepada setiap rupiah dana umat yang dipercayakan.

 

Setiap bulan, para da’i di pulau-pulau terpencil itu menerima hak mukafa’ah—sebuah insentif sekitar Rp1,1 juta. Nominal yang mungkin kecil bagi ukuran kota, namun besar maknanya di tengah keterbatasan. Tugas pengurus, sebagaimana diingatkan ketua Dewan Dakwah Kepri, adalah memastikan transparansi, akuntabilitas, dan kesinambungan dana ini. Sebab, dari sinilah lahir harapan: agar semakin banyak anak-anak pesisir yang terbebas dari kebodohan dan terhindar dari pemurtadan.

 

Di penghujung forum, yang hadir bukan hanya rasa syukur atas perubahan yang telah terlihat, tetapi juga tekad bulat untuk melangkah lebih sistematis. “Kopassus Dakwah” akan terus bergerak. Kali ini, dengan peta di tangan, desa binaan di hati, dan laporan yang akuntabel di setiap langkah. Sebab, menjaga akidah di ujung laut adalah perang peradaban yang tak pernah usai.(red)

23 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *