Wartawan, Nasib, dan Jejak Dirinya

Sejak beberapa hari terakhir, saya sering duduk bersama rekan wartawan. Ini mungkin karena saya mau ikut Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Akselerasi Jenjang Utama, yang diadakan Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) bekerja sama dengan Lembaga Penguji UKW UPN Veteran, Yogjakarta, 29-30 Agustus 2026 di Tanjungpinang.

Dalam proses ikut UKW Akselerasi tersebut, saya sangat terbantu oleh teman-teman wartawan yang tergabung dalam KJK, mulai dari Ketua KJK, Ady Indra Pawennari, Sekjen KJK, Amril Agin dan Ketua UKW Ambok Akok. Mereka bertiga selalu rutin memantau sampai dimana surat pengajuan saya yang ditujukan kepada PWI Kepri untuk diteruskan ke Dewan Pers.

UKW Akselerasi Jenjang Utama merupakan jalur khusus untuk wartawan yang pernah mengabdi minimal 10 tahun, dan punya tiga buku ber ISBN. Saya sudah 32 tahun, sejak 1994 menjadi wartawan, dan telah punya tujuh buku ber ISBN. Rasanya, saya layak untuk mengajukan diri ikut UKW Akselerasi itu. Apalagi, saat ini saya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi media online infoluarbiasa.net.

Sekarang proses UKW Akselerasi saya tinggal menunggu hasil. Menyusul diajukannya permohonan saya itu oleh Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani ke PWI Pusat untuk diteruskan ke Dewan Pers. Mudah-mudahan surat pengajuan saya tersebut direspon positif oleh PWI Pusat dan Dewan Pers sehingga saya boleh ikut UKW Akselerasi Jenjang Utama.

Dari pertemuan kecil sambil ngupi itu, hadir juga Suyono Saeran (wartawan yang jadi staf khusus Gubernur Kepri). Banyak cerita yang muncul. Kadangkala dibarengi ketawa ngakak saat beberapa orang menceritakan pengalamannya dulu. Diantara sahabat itu, saya masih sempat merasakan meliput berita bersama dengan Ady Indra Pawennari. Sementara yang lain, cuma kenal nama dan sama-sama menjalani profesi sebagai kuli tinta.

Saya teringat, di Pekanbaru, Riau, sering terjadi silaturahmi serupa antar sesama reporter. Ada yang berkumpul wartawan muda saja, wartawan muda dengan senior dan ada pula ngupi antar wartawan senior atau jurnalis tua. Walau sudah jauh beda umur, tapi solidaritas sesama pewarta tetap terjalin akrab dan mesra.

Malah di Pekanbaru, wartawannya –lewat PWI Riau—bahu membahu mendorong peningkatan kesejahteraan reporter melalui hibah dari pemerintah setempat. Karena anggota PWI merupakan entitas yang mendorong majunya pembangunan suatu daerah, sehingga layak mendapat perhatian pemerintah provinsi.

Saat ini, wartawan yang tergabung dalam PWI Riau, sudah mendapat bantuan perumahan yang berasal dari pemberian tanah ditambah hibah uang untuk membangun rumah. Donasi itu diberikan kepada 200 orang wartawan. Tak salah apabila Pemprov Kepri meniru Pemprov Riau dalam memperhatikan eksistensi jurnalis di wilayah ini.

Dari ngupi tersebut, malah mucul info sebagian wartawan yang ada di Kota Tanjungpinang kendati sudah bertugas cukup lama, tapi sampai sekarang masih mengontrak rumah. Bahkan, ada reporter yang sudah meninggal dunia, sementara keluarganya masih menyewa rumah. Ironis memang.

Bagi saya, kondisi ini agak memprihatinkan. Memang soal nasib seseorang tergantung takdirnya. Tapi kalau melihat sepak terjang jurnalis, yang memberitakan sesuatu kepada masyarakat, rasanya sudah layak jika reporter bersangkutan mendapat sedikit perbaikan hidup. Caranya, iya itu tadi, memberi bantuan rumah layak. Minimal tanah untuk membangun rumah.

Keresahan semacam ini sebenarnya bukan cuma milik kami di Tanjungpinang. Hasil googling, setahun terakhir, isu rumah untuk wartawan bahkan naik ke meja pemerintah pusat. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pernah menyebut dari sekitar 100 ribu wartawan di Indonesia, mayoritas -sekitar 70 persen- belum memiliki rumah yang layak.

Data itu menjadi salah satu alasan lahirnya program rumah subsidi untuk wartawan yang digagas Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama Komdigi, BP Tapera, BTN, dan Dewan Pers, dengan kuota yang terus bertambah dari semula 1.000 unit menjadi 3.000, lalu bertambah 5.000 unit pada 2026.

Informasi itu menunjukkan bahwa keresahan yang muncul dari obrolan kami di kedai kopi ini sesungguhnya mewakili persoalan yang jauh lebih besar, yang sedang dicarikan jalan keluarnya di tingkat nasional -meski jalan itu sendiri masih terus dibahas.

 

Bikin Antologi Opini

Dari ngupi tersebut, disepakati kami bertiga, saya, Ady dan Suyono bakal menerbitkan buku antologi tulisan tiga wartawan. Masing-masing menyerahkan 10 tulisan. Mungkin judulnya “Catatan Pinggir Tiga Wartawan Pulau”, atau judul lain yang disetujui bersama.

Pada kesempatan itu, ada ide untuk memperbanyak jumlah wartawan yang ikut menyumbang tulisan, sehingga menjadi antologi kumpulan tulisan beberapa wartawan. Saya menyambut baik usulan itu. Menurut saya, dan juga diamini teman-teman lain, wartawan harus meninggalkan jejak. Jejak itu, salah satunya, lewat kumpulan tulisan yang dijadikan buku.

Saran menerbitkan buku ini mendapat respon. Apalagi, buku tersebut bakal diterbitkan KJK, sebagai paguyuban wartawan yang ada di Kepri, khususnya Kota Tanjungpinang. KJK bukan hanya sebagai organisasi sambil lalu, tapi paguyuban yang ikut memperhatikan kehidupan para kuli tinta. Setelah UKW, bikin buku, KJK juga akan mengadakan bedah buku saya yang berjudul Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman. “Kalau dapat buku pengarang wartawan lain juga boleh di bedah di KJK,” ujar saya sambil melirik Suyono Saeran yang sudah punya delapan buku.

Di sinilah saya melihat makna sebuah antologi tulisan wartawan. Ketika kecerdasan buatan (AI) bisa merangkai ribuan artikel dalam hitungan detik, yang tidak bisa digantikan mesin adalah pengalaman hidup, suara, dan cara pandang seorang wartawan yang mengabdi puluhan tahun di lapangan. Buku, betapapun sederhana, adalah jejak yang tidak akan digilas oleh algoritma manapun.

Menko PMK Muhaimin Iskandar, dalam peringatan Hari Pers Nasional 2026 menegaskan bahwa pers tidak boleh kalah oleh algoritma. Bagi saya, pesan itu justru menegaskan kenapa jejak tulisan personal seperti antologi ini tetap punya tempat -karena yang dicari pembaca pada akhirnya bukan sekadar kecepatan mesin, melainkan suara manusia di baliknya.

Dari perbincangan silaturahmi sambil ngupi, ternyata sejumlah jurnalis di Kota Tanjungpinang, bisa melahirkan ide-ide brilian untuk kemaslahatan umat, utamanya kalangan wartawan. Kelihatannya sepele, tapi makna kebersamaan sudah terjalin dengan serius. Tinggal semesta alam yang akan mewujudkannya.* (Ridarman Bay)

34 views


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *