Tanjungpinang (infoluarbiasa.net)— Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) menggelar bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman, karya wartawan senior Kepulauan Riau, Ridarman Bay, di kantor KJK, Batu 11, Tanjungpinang, Sabtu (12/9).
Acara yang berlangsung santai namun bermutu ini menjadi tidak biasa karena satu hal: kehadiran tujuh doktor sekaligus dalam satu forum.
Fenomena semacam itu jarang terjadi di luar lingkungan kampus. Forum bedah buku di kota-kota kecil umumnya hanya dihadiri satu atau dua pembicara bergelar akademik, selebihnya peserta umum; kehadiran lebih dari dua doktor sekaligus biasanya hanya ditemui pada seminar atau sidang akademik formal.
Sabtu tadi pagi berbeda: tujuh doktor dari berbagai instansi hadir dalam satu ruangan yang sama — sesuatu yang, menurut sejumlah peserta, belum pernah terjadi sebelumnya di Tanjungpinang untuk acara serupa yang digagas komunitas jurnalis, bukan perguruan tinggi.
Karena itu, kehadiran mereka pada bedah buku kali ini menjadi penanda bahwa acara ini bukan sekadar agenda internal komunitas, melainkan mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi dan penyelenggara pemilu di Kepulauan Riau.
Bertindak sebagai Pembedah 1 adalah Dr. Darson, M.Si., Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov Kepri. Acara dimoderatori oleh Dr. Ahmad Yani, S.H., M.H., pengacara yang juga dikenal aktif dalam diskusi-diskusi intelektual di Kepri.
Turut hadir Dr. Rosnawati dan Dr. Maryamah, keduanya komisioner Bawaslu Kepri; Dr. Bismar Arianto, M.Si., akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah); Dr. Yusuf Mahidin, Ketua Bawaslu Kota Tanjungpinang; serta Dr. Saripuddin, Wakil Rektor IAI Miftahul Ulum.
Ragam latar belakang mereka — hukum, pemerintahan, pengawasan pemilu, akademisi, hingga rektorat — menegaskan bahwa perhatian terhadap buku ini datang lintas sektor, bukan dari satu kalangan saja.
Darson menegaskan pentingnya wartawan memiliki karya buku sendiri sebagai bentuk kontribusi intelektual sekaligus jejak karier. “Wartawan itu mesti punya buku. Karena itu menulislah,” ujarnya serius.
Ketua KJK, Ady Indra Pawennari, yang tampil sebagai Pembedah ke-2, menyampaikan harapan yang senada. Ia berharap acara ini memotivasi wartawan lain untuk menulis dan menerbitkan buku.
“Tujuan bedah buku ini, salah satunya, supaya wartawan punya budaya menulis dan membukukan karyanya. Kami bersedia memfasilitasi kegiatan bedah buku karya wartawan lain,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun momen paling menggigit dari diskusi ini justru datang dari sisi lain: kontras antara integritas dan pengkhianatan profesi. Ady bercerita, ia pernah menjadi korban wartawan lain yang merayunya untuk membuat buku biografi.
Bahan sudah diberikan, uang untuk membeli laptop dan biaya operasional pun sudah dikeluarkan — tapi buku itu tak kunjung terwujud hingga tiga tahun berlalu.
Bandingkan dengan Ridarman. “Waktu bang Ridarman minta saya memberi kata pengantar, dua minggu kemudian buku ini terbit. Saya pernah kena tipu sama oknum wartawan yang katanya mau bikin buku tentang diri saya, ternyata sampai sekarang janji itu tidak terwujud,” ujar Ady dengan nada kesal bercampur geram.
Kontras itulah yang menjadi inti pesan moral dari bedah buku ini: di tengah wartawan yang menyalahgunakan kepercayaan untuk kepentingan pribadi, masih ada jurnalis yang bekerja dengan komitmen dan menyelesaikan apa yang dijanjikan.
Bismar Arianto menambahkan dimensi lain soal makna jangka panjang sebuah karya tulis. Ia berbagi pengalaman pribadi ketika bukunya sendiri, beberapa tahun setelah terbit, ternyata dijadikan referensi dan tersimpan di sebuah perpustakaan di Australia.
“Saya yakin buku Menjaga Nurani ini pada masa depan juga akan diperhatikan orang,” ujarnya.
Ia bahkan menyitir nilai spiritual dari sebuah karya tulis — dalam ajaran Islam, ilmu yang bermanfaat adalah satu dari tiga amal yang pahalanya terus mengalir meski penulisnya telah tiada.
“Semoga buku ini bermanfaat bagi generasi selanjutnya,” katanya.
Selain para doktor, acara ini juga dihadiri pejabat eselon III Pemprov Kepri, akademisi, wartawan, Ketua KIP, Ketua KPID, aktivis, pemerhati literasi, hingga perwakilan Taman Bacaan Masyarakat.
Keragaman peserta ini sekali lagi menegaskan bahwa tradisi literasi wartawan di Kepri, khususnya Tanjungpinang, mulai mendapat tempat di luar lingkaran profesi itu sendiri.
Diskusi tidak berhenti pada isi buku semata, tetapi berkembang menjadi refleksi bersama tentang pentingnya budaya menulis di kalangan wartawan — bahwa literasi bukan hanya keterampilan profesional, melainkan juga warisan intelektual bagi generasi mendatang.
Acara yang dijadwalkan selesai pukul 11.30 WIB itu molor hingga pukul 12.10 WIB karena antusiasme peserta yang masih ingin menanggapi, sebelum akhirnya ditutup oleh moderator.
Dengan kehadiran tujuh doktor lintas bidang, kisah kontras antara integritas dan pengkhianatan profesi, serta harapan agar makin banyak wartawan menulis buku, bedah buku Menjaga Nurani menjadi lebih dari sekadar seremoni komunitas — ia menjadi penanda bahwa tradisi literasi di Kepulauan Riau tengah mencari bentuknya yang lebih serius.
Bagi KJK sendiri, momentum ini diharapkan tidak berhenti pada satu buku.
Ady menyebut komunitasnya siap memfasilitasi bedah buku karya wartawan lain di masa mendatang, sebuah tawaran yang, jika benar-benar berlanjut, bisa menjadikan tradisi menulis buku di kalangan wartawan Kepri sebagai kebiasaan yang berkelanjutan, bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Sementara itu, sang penulis, Ridarman Bay mengatakan, tujuan bedah buku itu selain untuk memotivasi wartawan untuk menulis dan membukukan tulisannya, juga untuk mengembangkan tradisi literasi di kalangan Masyarakat, terutama wartawan.
“Bedah buku ini juga untuk menunjukan akuntabiltas saya sebagai penulis kepada pembaca,” ujar wartawan senior itu.(red)










